Kamis, 07 September 2023


MY AUTOBIOGRAPHY

Andi Aqilah Zaimah Dinillah

   My name is Andi Aqilah Zaimah Dinillah. My nick name is Anqil. I was born in makassar 09 juny 2007. I live in sudiang,griya bulurokeng indah blok E no.14. I study in TK DUA PUTRA SATU.after that I continued my study in SD INPRES DAYA until grade. When I was come up to grade 4 I move to SDN BULUROKENG 1. After that I continued my junior school in boarding school Darussalam Gontor For Girls Campus 2. And mow I study in MAN PK Makassar.

    I grow up with simple family. I have one little sister and one little brother. My father name is Arham Alam and my mother name is Marlinah. My little sister study in class 2 and my little brother study in class 6.

     Before im study in MAN PK i study in Darussalam Gontor, in Gontor im study the Arabic and inggris language, and now I can to speak by inggris and Arabic language littely. In Gontor my dayly is work fest,in 3 o’clock we praying subuh after that we memories vocabulary until 6 o/clock and we go to school in 7 o’clock until 12 o’clock so pray dzuhur and take a food or eating so continued study from 1 o’clock until 3 o’clock so pray ashar and after that the private time for student so pray maghrib after that take a food or eating and after praying isya we study and memories. My life that is so regulated nicely.

      After high school. Iwant university lecture Al-Azhar,Egypt.Because I wanna to be lecture Arabic language.I want can’t speak Arabic and smart to read the Islamic book,and one day I wanna be a successful and great people.

     I wan’t to make my dream come true by studying seriously so I can continiue studying Al-Azhar,Egypt.It’s never too late if we want to try,because actually the effort will not betray the results.


Rabu, 07 Desember 2011

HEPATITIS AKUT

HEPATITIS AKUT

A.    Konsep Medis
1.      Pengertian
Hepatitis acut/hepatitis A adalah :
Virus yang hampir selalu ditularkan melalui rute fekal oral. Virus ini yang menimbulkan hepatitis akut tanpa keadaan kronik atau menetap seperti yang ditunjukkan oleh virus hepatitis darah.
2.      Etiologi
a.       Virus hepatitis mengacu pada adanya peradangan hati. Secara patologi dapat disebabkan oleh zat kimia atau infeksi.
b.      Virus hepatitis yang ditularkan secara parenteral dan seksual yaitu  hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D. (diketahui sebagai hepatitis delta). Hepatitis B penularannya yang paling serius adalah secara parenteral dan ibu terinfeksi penyakit lebih rendah
c.       Hepatitis C
Sebelumnya tidak diketahui virusnya dan sekarang teridentifikasi sehingga disebut hepatitis C dengan melalui penulisan tes antibodi sehingga dapat ditentukan bahwa hepatitis C bisa tertular karena jarum suntik/pemberian cara parenteral (intra vena).
3.      Patofisiologi
Pada penderita hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, dan hepatitis D yaitu masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh melalui membran mukosa/merusak kulit untuk mencapai hati. Di hati replikasi 2 – 6 minggu/sampai 6 bulan pejamu mengalami gejala. Beberapa infeksi tidak terlihat untuk yang mengalami gejala : tingkat kerusakan hati dan hubungannya dengan demam yang diikuti dengan kekuningan, artritis, nyeri perut dan mual. Pada kasus yang ekstrim dapat terjadi kerusakan pada hati (hepatomegali). (Buku Ajar Keperawatan)
(Hudak dan Gallo, 1994).
4.      Manifestasi klinik
Pada minggu 1 – 2 demam/awal penyakit kadang-kadang tidak ada keluhan sehingga kebanyakan pasien datang dalam keadaan studi lanjut. Keluhannya terasa nyeri pada perut kanan atas, tidak ada nafsu makan karena perut terasa kenyang, berat badan menurut drastis. Kadang ada keluhan dari pasien adanya pembengkakan perut kanan atas atau daerah epigastrium
5.      Pemeriksaan laboratorium
a.       Uji faal hati untuk mengetahui adanya obstruksi saluran empedu/adanya sel-sel hati yang rusak.
b.      SGOT dan SGPT.
c.       Posfatase alkali.
d.      Laktat dehidrogenase.
e.       Peningkatan alfa-L fukosidase.
6.      Komplikasi
a.       Hyperkalsemia oleh karena terjadinya peningkatan reabsorbsi tulang sehingga dapat terjadi peningkatan berbagai hormon : paratiroid dan lain-lain.
b.      Hypekolisterolemia adanya peningkatan sintetis kolesterol oleh tumor. Ini disebabkan oleh karena hilangnya mekanisme umpan balik negatif, sehingga terjadi kerusakan pada peningkatan membran sel.
c.       Alfa foto protein terdeteksinya glikogen motenik pada fetus umum 6 sampai 7 minggu kehamilan.
7.      Pencegahan
Jika infeksi hepatitis B dapat dikendalikan dengan vaksin, maka insidens karsinoma hepatoseluler akan turun angka kematiannya. Karena pada frevakusi pembawa hepatitis B yang tinggi.
8.      Pengobatan
a.       Diberi vaksin hepatitis B bila ada pasangan setiap kasus HBE AGS positif.
b.      Tidak ada aturan diet dilarang tetapi pemakaian alkohol dikurangi.

B.     Konsep Keperawatan

Proses perawatan adalah metode pemecahan masalah keperawatan secara ilmiah dan melaksanakan serta mengevaluasi hasil asuhan keperawatan tersebut. untuk melaksanakan asuhan keperawatan digunakan suatu pendekatan proses perawatan yang terdiri dari langkah-langkah ilmiah yaitu pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang kesemuanya saling berkesinambungan dan dalam prakteknya dilaksanakan pada semua tingkat usia dengan berbagai kondisi.
  1. Tahap pengkajian
a.       Riwayat kesehatan
Riwayat penggunaan alkohol yang lama, penyakit hati karena alkohol, riwayat penyakit kandung empedu, trauma pada hati perdarahan saluran makanan, saluran cerna atas, perdarahan yang disebabkan oleh varises oesofagus, penggunaan obat-obat yang mempengaruhi fungsi hati.
b.      Aktivitas/istirahat
Gejala    :   kelemahan, kelelahan, terlalu lelah.
Tanda    :   letargi, penurunan massa otot/tonus
c.       Sirkulasi
Gejala    :   riwayat GJK, kolik, perikarditis, penyakit jantung reumatik, kanker (mall fungsi hati menimbulkan gagal hati).
Tanda    :   disaritmia bunyi jantung ekstra (53, 54).
DVJ       :   vena abdomen distensi
d.      Eliminasi
Gejala    :   flatus.
Tanda    :   distensi abdomen (hepatomegali, splenomegali, asites).
Penurunan atau tidak ada tanda bising usus, faeces warna tanah liat, melena, urine gelap, pekak.
e.       Makanan/cairan
Gejala    :   anorexia, tidak toleran terhadap makanan/tidak dapat mencerna, mual/muntah.
Tanda    :   penurunan BB atau cairan, penggunaan jaringan, edema umum pada jaringan, kulit kering, turgor jelek, ikterik, angioma spider, nafas berbatu/foetor, hepatikus, perdarahan gusi.
f.       Neurosensori
Gejala    :   orang terdekat dapat melaporkan perubahan kepribadian, penurunan mental.
Tanda    :   perubahan mental, bingung, halusinasi, koma, bicara lambat/tak lancar. Asterik (enselopati hepatik)
g.      Nyeri/kenyamanan
Gejala    :   nyeri tekan abdomen/nyeri kuadran kanan atas, pruritus, neuritis perifer
Tanda    :   prilaku berhati-hati, distraksi, fokus pada diri sendiri.
h.      Pernafasan
Gejala    :   dispna
Tanda    :   takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan, ekspansi paru-paru terbatas (asites), hipoksia
i.        Keamanan
Gejala    :   pruritus.
Tanda    :   demam (lebih umum pada sirosis alkoholik), ikterik, ekimosis, peteksi, angioma spider/telengiektatis, eritema, palimar.
j.        Seksualitas
Gejala    :   gangguan mesntruasi, impoten.
Tanda    :   atropi testis, ginekomastia, kehilangan rambut (dada bawah lengan, pubis).
  1. Diagnosa keperawatan
a.       Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan diet tidak adekuat, ketidakmampuan untuk memproses/mencerna makanan.
b.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi, retensi natrium.
c.       Resiko tinggi terhadap gangguan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu pada kulit.
d.      Resiko tinggi terhadap pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru asites.
e.       Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan gangguan faktor pembekuan gangguan absorbsi vitamin K.
f.       Resiko tinggi terhadap perubahan proses fikir berhubungan dengan peningkatan serum amonia ; perubahan proses fisiologi.
g.      Gangguan harga diri/citra tubuh berhubungan dengan perubahan biofisika/pribadi rentan.
h.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi ketidakbiasaan terhadap sumber informasi.
  1. Perencanaan
a.       Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan diet tidak adekuat, ketidakmampuan untuk memproses/mencerna makanan.
1)      Tujuan : peningkatan berat badan, nilai laboratorium normal, tidak mengalami tanda malnutrisi labih lanjut.
2)      Intervensi
a)      Ukur masukan nutrisi.
Rasional  :   memberikan informasi tentang kebutuhan pemasukan/defesiensi
b)      Timbang berat badan sesuai indikasi.
Rasional  :   sebagai indikator langsung nutrisi.
c)      Bantu dan dorong pasien untuk makan, jelaskan alasan tipe diet.
Rasional  :   diet penting untuk penyembuhan.
d)     Berikan makanan sedikit tapi sering.
Rasional  :   buruknya toleransi terhadap makanan mungkin berhubungan dengan peningkatan tekanan intra abdomen.
e)      Batasi masukan kafein, makanan berbumbu dan yang mengandung gas
Rasional  :   membantu dalam menurunkan oitasi gaster dan ketidaknyamanan abdomen.
f)       Berikan makanan halus, hindari makanan kasar.
Rasional  :   menghindari terjadinya perdarahan dan varises esofagus.
g)      Berikan perawatan mulut sering dan sebelum makan.
Rasional  :   menghindari persaan tidak enak pada mulut.
h)      Kolaborasi dengan ahli gizi tentang pemberian tinggi kalori.
Rasional  :   makanan tinggi kalori penting untuk klien sebab pemasukan terbatas. Karbohidrat akan disalurkan untuk energi pemberian lemak yang tinggi kurang baik, karena hati tidak berfungsi dengan baik.
b.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi, retensi natrium.
1)      Tujuan : balance volume cairan antara pemasukan dan pengeluaran, tidak terjadi oedema.
2)      Intervensi :
a)      Ukur dan catat cairan yang masuk dan keluar setiap 24 jam.
Rasional  :   menilai keefektivan pengobatan yang diberikan dan pemasukan cairan yang adekuat.
b)      Monitor tekanan darah dan CVP (central venous pressure). Catat adanya pembesaran vena jugularis dan vena abdominal.
Rasional  :   tekanan darah biasanya meningkat berhubungan dengan volume cairan yang berlebihan. Jika ada pembesaran vena jugularis berarti ada cairan yang keluar dari ruang pembuluh darah karena vaskuler congestion.
c)      Kaji keadaan pernafasan dan catat kenaikan respiratory rete dispnoe.
d)     Kaji derajat dari oedema.
Rasional  :   cairan yang berada dalam jaringan berasal dari hasil sodium sehingga terjadi penyimpangan air dan penurunan albumin.
e)      Ukur lingkar abdomen.
Rasional  :   menggambarkan akumulasi hasil dari asotes.
f)       Berikan perawatan mulut.
Rasional  :   menurunkan rasa haus.
g)      Penatalaksanaan pemberian diuretik.
Rasional  :   untuk mengontrol oedema dan acites, menghambat efek aldosteron meningkatkan ekskresi air.
c.       Resiko tinggi terhadap gangguan integritas kulit berhubungan dengan akumulasi garam empedu pada kulit.
1)      Tujuan : meningkatkan integritas kulit dan mencegah iritasi pada kulit.
2)      Intervensi :
a)      Pertahankan kebersihan kulit tanpa menyebabkan kulit kering.
Rasional  :   kekeringan dapat meningkatkan efektivitas kulit dengan merangsang ujung saraf.
b)      Cegah pernafasan terhadap suhu yang berlebihan dengan mempertahankan suhu ruangan dinin dan kelembaban yang rendah.
Rasional  :   menghindari terjadinya kekeringan kulit.
c)      Ubah posisi dengan jadwal teratur.
Rasional  :   pengubahan posisi menurunkan tekanan pada jaringan edema untuk sirkulasi.
d)     Tinggikan ekstremitas bawah.
Rasional  :   meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan edema.
e)      Pertahankan seprei kering dan bekas lipatan.
Rasional  :   kelembaban meningkatkan pruritus dan meningkatkan resiko kerusakan kulit.
f)       Gunting kuku jari hingga pendek.
Rasional  :   mencegah pasien dari luka tambahan.
d.      pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru asites.
1)      Tujuan : mempertahankan pola nafas tetap efektif, bebas dispnea dan cyanosis.
2)      Intervensi :
a)      Awasi frekuensi dan kedalaman pernafasan.
Rasional  :   pernafasan dangkal/cepat (dispnea) mungkin ada hubungannya dengan hipoksia.
b)      Auskultasi pola nafas
Rasional  :   menunjukkan adanya komplikasi.
c)      Selidiki perubahan tingkat kesadaran.
Rasional  :   perubahan mental menunjukkan hipoksemia dan gagal pernafasan.
d)     Pertahankan posisi kepala tempat tidur tinggi.
Rasional  :   memudahkan pernafasan dan mengurangi tekanan pada diafragma.
e)      Ubah posisi dengan sering, dorong nafas dalam.
Rasional  :   membantu ekspansi paru dan mobilisasi sekret.
f)       Awasi suhu dan catat menggigil.
Rasional  :   menunjukkan timbulnya infeksi, pneumonia.
e.       Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan gangguan faktor pembekuan gangguan absorbsi vitamin K.
1)      Tujuan : tidak terjadi cedera atau perdarahan.
2)      Intervensi :
a)      Kaji adanya tanda-tanda dan adanya gejala perdarahan.
Rasional  :   resiko perdarahan tinggi karena gangguan dalam hemostatis darah.
b)      Observasi adanya petekei, echimosis dan perdarahan.
Rasional  :   coagulation interna disease sub akut dapat terjadi sekunder terhadap gangguan faktor pembekuan.
c)      Awasi tekanan darah, nadi dan centra venous pressure bila ada.
Rasional  :   peningkatan nadi dan penurunan tekanan darah centra venous pressure menunjukkan kehilangan cairan dan darah sirkulasi.
d)     Catat perubahan mental/tingkat kesadaran.
Rasional  :   perubahan dapat menunjukkan penurunan perfusi jaringan serebral sekunder terhadap hipovolemia, hipoksemia.
e)      Hindari pengukuran suhu rectal.
Rasional  :   rektal paling rentan untuk robek.
f)       Anjurkan menggunakan sikat gigi halus.
Rasional  :   meminimalkan resiko perdarahan.
g)      Hindari penggunaan produk yang mengandung aspirin.
Rasional  :   koagulasi memanjang, berpotensi untuk resiko perdarahan.
h)      Kolaborasi dengan laboratorium pemeriksaan Hb/Hl dan faktor pembekuan.
f.       Resiko tinggi terhadap perubahan proses fikir berhubungan dengan peningkatan serum amonia ; perubahan proses fisiologi.
1)      Tujuan : mempertahankan tingkat mental/orientasi kenyataan.
2)      Intervensi :
a)      Observasi perubahan prilaku dan mental.
Rasional  :   pengkajian terhadap status mental dan prilaku penting karena fluktuasi alami dari koma hepatik.
b)      Catat terjadinya aktivitas kejang.
Rasional  :   menunjukkan terjadinya peningkatan kadar amonia serum, peningkatan terjadinya ensepalopati.
c)      Orientasikan kembali pada waktu, tempat dan orang sesuai kebutuhan.
Rasional  :   membantu dalam mempertahankan orientasi kenyataan menurunkan ansietas.
d)     Pertahankan kenyamanan lingkungan tenang.
Rasional  :   menurunkan rangsangan berlebihan dan membantu menurunkan ansietas.
e)      Pasang pengaman tempat tidur.
Rasional  :   menurunkan resiko cedera bila bingung, kejang.
f)       Selidiki peningkatan suhu, awasi tanda infeksi.
Rasional  :   infeksi dapat mencetuskan encelopati hepatik.
g.      Gangguan harga diri/citra tubuh berhubungan dengan perubahan biofisika/pribadi
1)      Tujuan : menyatakan perubahan/penerimaan diri pada situasi yang ada.
2)      Intervensi :
a)      Diskusikan situasi/dorong pernyataan takut/masalah, jelaskan hubungan antara gejala dengan awal penyakit.
Rasional  :   pasien sangat sensitif pada perubahan suhu dan juga mengalami perasaan bersalah.
b)      Berikan perawatan dengan prilaku bersahabat.
Rasional  :   membantu pasien untuk merasakan nilai pribadi.
c)      Motivasi keluarga untuk menyatakan perasaan.
Rasional  :   kebutuhan dukungan emosi tanpa penilaian.
d)     Bantu pasien/orang terdekat untuk mengatasi perubahan penampilan.
Rasional  :   pasien dapat memperlihatkan perubahan/kurang menarik berhubungan dengan ikterik.
h.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi ketidakbiasaan terhadap sumber informasi.
1)      Tujuan : menyatakan pemahaman proses penyakit.
2)      Intervensi :
a)      Kaji ulang proses penyakit/prognosis yang akan datang.
Rasional  :   memberikan dasar pengetahuan pada pasien yang dapat membuat pilihan informasi.
b)      Tekankan pentingnya menghindari alkohol.
Rasional  :   predisposisi terjadinya hepatoma.
c)      Informasikan pada pasien tentang efek gangguan obat pada hepatoma dan pentingnya obat yang melalui resep.
Rasional  :   beberapa obat bersifat hepatoksis selain itu kerusakan hari menurunkan kemampuan metabolisme semua obat.
d)     Tekankan pentingnya nutrisi.
Rasional  :   pemeliharaan diet yang tepat menghindari makanan tinggi amonia membantu memperbaiki gejala dan membantu mencegah kerusakan hati.
  1. Implementasi
Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawaan pasien. Agar implementasi/ pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan, memantau dan mencatat respon pasien terhadap setiap intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan.
Pada pelaksanaan keperawatan diprioritaskan pada upaya untuk meningkatkan fungsi pernafasan, menghilangkan nyeri dan meningkatkan istirahat, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Meningkatkan asupan nutrisi. Memberikan informasi tentang penyakit, prosedur dan kebutuhan pengobatan (Doenges E. Marylnn, dkk, 2000).
  1. Evaluasi
Pada tahap akhir dari proses keperawatan adalah mengevaluasi respon pasien terhadap perawatan yang diberikan untuk memastikan bahwa hasil yang diharapkan telah dicapai. Evaluasi yang merupakan proses terus-menerus, diperlukan untuk menentukan seberapa baik rencana perawatan yang dilaksanakan.
Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinyu karena setiap tindakan keperawatan dilakukan respon pasien dicatat dan dievaluasi dalam hubungannya dengan hasil yang diharapkan kemudian berdasarkan respon klien revisi intervensi keperawatan hasil pasien yang mungkin diperlukan. Pada tahap evaluasi mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan yaitu : pola nafas efektif, nyeri teratasi/terkontrol, tidak terjadi kekurangan volume cairan, kebutuhan nutrisi terpenuhi, klien mengatakan pemahaman tentang penyakitnya (Keliat Anna Budi, 1994).

 DAFTAR PUSTAKA
  
Brunner dan Suddarth, (1999), Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Edisi 8, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Carpenito, L. J, (1995), Rencana Asuhan Dokumentasi Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Hudak dan Gallo, (1997), Keperawatan Kritis; Pendekatan Holistik, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Price, S. A, dkk (1995), Patofisiologi, Edisi IV, Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.

Soeparman, dkk, (2003), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Penerbit FKUI, Jakarta.

Minggu, 13 November 2011

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda!

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda!    

Ditulis oleh: Anne Ahira

"Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah." 

-- Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang
menganggap remeh pada masalah ini.
Padahal, kecerdasan otak saja tidak
cukup menghantarkan seseorang mencapai
kesuksesan.

Justru, pengendalian emosi yang baik
menjadi faktor penting penentu
kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran
mental dari seseorang yang cerdas dalam
menganalisa, merencanakan dan
menyelesaikan masalah, mulai dari yang
ringan hingga kompleks.

Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa
memahami, mengenal, dan memilih
kualitas mereka sebagai insan manusia.
Orang yang memiliki kecerdasan emosi
bisa memahami orang lain dengan baik
dan membuat keputusan dengan bijak.

Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait
erat dengan bagaimana seseorang dapat
mengaplikasikan apa yang ia pelajari
tentang kebahagiaan, mencintai dan
berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan
bertanggung jawab dalam segala hal yang
terjadi dalam hidupnya sebagai bukti
tingginya kecerdasan emosi yang
dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada
pencapaian kesuksesan hidup yang 
*tidak tampak*.

Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan
dengan melibatkan emosi, perasaan dan
interaksi dengan sesamanya. 

Terbukti, pencapaian kesuksesan secara 
materi tidak menjamin kepuasan hati 
seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang
juga dikenal dengan sebutan "EQ"),
dikenalkan melalui pasar dunia.

Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang
untuk mengatasi dan menggunakan emosi
secara tepat dalam setiap bentuk
interaksi lebih dibutuhkan daripada
kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana
emosi bisa mengubah segala keterbatasan
menjadi hal yang luar biasa....

Seorang miliuner kaya di Amerika
Serikat, Donald Trump, adalah contoh
apik dalam hal ini. Di tahun 1980
hingga 1990, Trump dikenal sebagai
pengusaha real estate yang cukup
sukses, dengan kekayaan pribadi yang
diperkirakan sebesar satu miliar US
dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak
karirnya, yaitu "The Art of The Deal
dan Surviving at the Top"
. Namun jalan
yang dilalui Trump tidak selalu
mulus...

Masih ingat depresi yang melanda dunia
di akhir tahun 1990? Pada saat itu
harga saham properti pun ikut anjlok
dengan drastis. Hingga dalam waktu
semalam, kehidupan Trump menjadi sangat
berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada
bisnis propertinya ini harus menanggung
hutang sebesar 900 juta US Dollar!
Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi
kebangkrutannya.

Beberapa temannya yang mengalami nasib
serupa berpikir bahwa inilah akhir
kehidupan mereka, hingga benar-benar
mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump
benar-benar diuji. Bagaimana tidak,
ketika ia mengharap simpati dari mantan
istrinya, ia justru diminta memberikan
semua harta yang tersisa sebagai ganti
rugi perceraian mereka.

Orang-orang yang dianggap sebagai teman
dekatnya pun pergi meninggalkannya
begitu saja. Alasan yang sangat
mendukung bagi Trump untuk putus asa
dan menyerah pada hidup. Namun itu
tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini
kesempatan untuk bekerja dan mengubah
keadaan. Meski secara finansial ia
telah kehilangan segalanya, namun ada
"intangible asset" yang tetap
dimilikinya.

Ya, Trump memiliki pengalaman dan
pemahaman
 bisnis yang kuat, yang jauh
lebih berharga dari semua hartanya yang
pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump
sudah berhasil membuat kesepakatan
terbesar dalam sejarah bisnisnya.

Tiga tahun berikutnya, Trump mampu
mendapat keuntungan sebesar US$3
Milliar. Ia pun berhasil menulis
kembali buku terbarunya yang diberi
judul "The Art of The Comeback".

Dalam bukunya ini Trump bercerita
bagaimana kebangkrutan yang menimpanya
justru menjadikannya lebih bijaksana,
kuat dan fokus daripada sebelumnya.

Bahkan ia berpikir, jika saja musibah
itu tidak terjadi, maka ia tidak akan
pernah tahu teman sejatinya dan tidak
akan menjadikannya lebih kaya dari yang
sebelumnya. Luar biasa bukan? :-)

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang
keteguhan untuk bangkit dari kegagalan,
juga mendatangkan kekuatan pada
seseorang untuk berani menghadapi
ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan
otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir
pada setiap org & bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara
mengasah kecerdasan emosi:

1. Selalu hidup dengan keberanian.

    Latihan dan berani mencoba hal-hal baru
    akan memberikan beragam pengalaman dan
    membuka pikiran dengan berbagai
    kemungkinan lain dalam hidup.

2. Selalu bertanggung jawab dalam
    segala hal.


    Ini akan menjadi jalan untuk bisa
    mendapatkan kepercayaan orang lain dan
    mengendalikan kita untuk tidak mudah
    menyerah. "being accountable is being
    dependable"


3. Berani keluar dari zona nyaman.

    Mencoba keluar dari zona nyaman akan
    membuat kita bisa mengeksplorasi banyak
    hal.

4. Mengenali rasa takut dan mencoba
    untuk menghadapinya.


    Melakukan hal ini akan membangun rasa
    percaya diri dan dapat menjadi jaminan
    bahwa segala sesuatu pasti ada
    solusinya.

5. Bersikap rendah hati.

    Mau mengakui kesalahan dalam hidup
    justru dapat meningkatkan harga diri
    kita.

Minggu, 16 Oktober 2011

MENELUSURI JEJAK DUNIA KEPERAWATAN DALAM SEJARAH ISLAM

Kegiatan pelayanan keperawatan berkualiatas telah dimulai sejak seorang perawat muslim pertama yaitu Siti Rufaidah pada jaman Nabi Muhammad S.A.W, yang selalu berusaha memberikan pelayanan terbaiknya bagi yang membutuhkan tanpa membedakan apakah kliennya kaya atau miskin. Elly Nurahmah, 2001. Ada pula yang mengenal sebagai Rufaidah binti Sa’ad/Rufaidah Al-Asalmiya dimana dalam beberapa catatan publikasi menyebutkan Rufaidah Al-Asalmiya, yang memulai praktek keperawatan dimasa Nabi Muhammad SAW adalah perawat pertama muslim, Kasule, 2003; Mansour & Fikry, 1987. Sementara sejarah perawat di Eropa dan Amerika mengenal Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan modern, Negara di timur tengah memberikan status ini kepada Rufaidah, seorang perawat muslim (Jan, 1996). Talenta perjuangan dan kepahlawanan Rufaidah secara verbal diteruskan turun temurun dari generasi ke generasi di perawat Islam khususnya di Arab Saudi dan diteruskan ke generasi modern perawat di Saudi dan Timur Tengah, Miller Rosser, 2006. Selama ini pula perawat Indonesia khususnya lebih mengenal Florence Nightingale sebagai tokoh keperawatan, yang mungkin saja lebih dikarenakan konsep keperawatan modern yang mengadopsi litelatur barat.
Tulisan ini bermaksud mengeksplorasi lebih jauh studi litelatur sejarah islam dalam bidang keperawatan dan mengenalkan kita tentang tokoh perawat islam. Tentu saja perkembangan keperawatan di masa Rufaidah binti Sa’ad (thn 570 – 632 SM), dengan perkembangan keperawatan era Florence Nightingale, dan perkembangan keperawatan era tahun 2000 akan tetap berbeda seiring dengan tuntutan pelayanan kesehatan. Kedua tokoh keperawatan tersebut muncul di masa-masa peperangan, sedangkan saat ini keperawatan bergerak maju dalam suasana damai, namun dengan kompleksitas tuntutan asuhan keperawatan dan beragam penyakit infeksi dan penyakit degeneratif (double burden disease).
  1. Mengenal Rufaidah binti Sa’ad (Ruafaidah Al-Asalmiya)
Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, Sr, 1998 dalam studi Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference “Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1-4 Nopember 1998, menggambarkan Rufaidah adalah perawat profesional pertama dimasa sejarah islam. Beliau hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad pertama Hijriah/abad ke-8 Sesudah Masehi, dan diilustrasikan sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain. Dan digambarkan pula memiliki pengalaman klinik yang dapat ditularkan kepada perawat lain, yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata, namun juga melaksanakan peran komunitas dan memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Rufaidah adalah public health nurse dan social worker, yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam.
Rufaidah binti Sa’ad memiliki nama lengkap Rufaidah binti Sa’ad Al Bani Aslam Al Khazraj, yang tinggal di Madinah, dia lahir di Yathrib dan termasuk kaum Ansar (golongan yang pertama kali menganut Islam di Madinah). Ayahnya seorang dokter, dan dia mempelajari ilmu keperawatan saat bekerja membantu ayahnya. Dan saat kota Madinah berkembang, Rufaidah mengabdikan diri merawat kaum muslim yang sakit, dan membangun tenda di luar Masjid Nabawi saat damai. Dan saat perang Badr, Uhud, Khandaq dan Perang Khaibar dia menjadi sukarelawan dan merawat korban yang terluka akibat perang. Dan mendirikan Rumah sakit lapangan sehingga terkenal saat perang dan Nabi Muhammad SAW sendiri memerintahkan korban yang terluka dirawat olehnya. Pernah digambarkan saat perang Ghazwat al Khandaq, Sa’ad bin Ma’adh yang terluka dan tertancap panah di tangannya, dirawat oleh Rufaidah hingga stabil/homeostatis.
Rufaidah melatih pula beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat, dan dalam perang Khaibar mereka meminta ijin Nabi Muhammad SAW, untuk ikut di garis belakang pertempuran untuk merawat mereka yang terluka, dan Nabi mengijinkannya. Tugas ini digambarkan mulia untuk Rufaidah, dan merupakan pengakuan awal untuk pekerjaaannya di bidang keperawatan dan medis.
Konstribusi Rufaidah tidak hanya merawat mereka yang terluka akibat perang. Namun juga terlibat dalam aktifitas sosial di komuniti. Dia memberikan perhatian kepada setiap muslim, miskin, anak yatim, atau penderita cacat mental. Dia merawat anak yatim dan memberikan bekal pendidikan. Rufaidah digambarkan memiliki kepribadian yang luhur dan empati sehingga memberikan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasiennya dengan baik pula. Sentuhan sisi kemanusiaan adalah hal yang penting bagi perawat, sehingga perkembangan sisi tehnologi dan sisi kemanusiaan (human touch) mesti seimbang. Rufaidah juga digambarkan sebagai pemimpin dan pencetus Sekolah Keperawatan pertama di dunia Isalam, meskipun lokasinya tidak dapat dilaporkan (Jan, 1996), dia juga merupakan penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventif care) dan menyebarkan pentingnya penyuluhan kesehatan (health education)
Sejarah islam juga mencatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti : Ummu Ammara, Aminah, Ummu Ayman, Safiyat, Ummu Sulaiman, dan Hindun. Beberapa wanita muslim yang terkenal sebagai perawat adalah : Ku’ayibat, Aminah binti Abi Qays Al Ghifari, Ummu Atiyah Al Ansariyat dan Nusaibat binti Ka’ab Al Maziniyat 6). Litelatur lain menyebutkan beberapa nama yang terkenal menjadi perawat saat masa Nabi Muhammad SAW saat perang dan damai adalah : Rufaidah binti Sa’ad Al Aslamiyyat, Aminah binti Qays al Ghifariyat, Ummu Atiyah Al Anasaiyat, Nusaibat binti Ka’ab Al Amziniyat, Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata.
Ummu Ammara juga dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka’ab bin Maziniyat, dia adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam Perjanjian Aqabat dan perjanjian Ridhwan, dan andil dalam perang Uhud dan perang melawan musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal denan luka2nya. Dia terlibat dalam perang Uhud, merawat korban yang luka dan mensuplai air dan juga digambarkan berperang menggunakan pedang membela Nabi.

  1. Masa Sejarah Perkembangan Islam dalam Keperawatan
Masa sejarah perkembangan islam dalam keperawatan, tidak dapat dipisahkan dalam konteks perkembangan keperawatan di Arab Saudi khususnya, dan negara-negara di timur tengah umumnya. Berikut ini akan lebih dijelaskan tentang sejarah perkembangan keperawatan di masa Islam dan di Arab Saudi khususnya.
  1. Masa penyebaran Islam/ The Islamic Period (570 – 632 M)
Dokumen tentang keperawatan sebelum-islam (pre-islamic period) sebelum 570 M sangat sedikit ditemukan. Perkembangan keperawatan di masa ini, sejalan dengan perang kaum muslimin/jihad (holy wars), memberikan gambaran tentang keperawatan dimasa ini. Sistem kedokteran masa lalu yang lebih menjelaskan pengobatan dilakukan oleh dokter ke rumah pasien dengan memberikan resep, lebih dominan. Hanya sedikit sekali lilature tentang perawat, namun dalam periode ini dikenal seorang perawat yang bersama Nabi Muhammad SAW telah melakukan peran keperawatan yaitu Rufaidah binti Sa’ad/Rufaidah Al-Asamiya.
  1. Masa Setelah Nabi/Post –Prophetic Era (632 – 1000 M).
Sejarah tentang keperawatan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW jarang sekali (Al Simy, 1994). Dokumen yang ada lebih didominasi oleh kedokteran dimasa itu. Dr Al-Razi yang digambarkan sebagai seorang pendidik, dan menjadi pedoman yang juga menyediakan pelayanan keperawatan. Dia menulis dua karangan tentang “The Reason Why Some Persons and the Common People Leave a Physician Even if He Is Clever” dan “A Clever Physician Does Not Have the Power to Heal All Diseases, for That is Not Within the Realm of Possibility”. Di masa ini ada perawat diberi nama “Al Asiyah” dari kata Aasa yang berarti mengobati luka, dengan tugas utama memberikan makanan, memberikan obat, dan rehidrasi.
  1. Masa Late to Middle Ages (1000 – 1500 M)
Dimasa ini negara-negara Arab membangun RS dengan baik, dan mengenalkan perawatan orang sakit. Ada gambaran unik di RS yang tersebar dalam peradaban Islam dan banyak dianut RS modern saat ini hingga sekarang, yaitu pemisahan anatar ruang pasien laki-laki dan wanita, serta perawat wanita merawat pasien wanita dan perawat laki-laki, hanya merawat pasien laki-laki (Donahue, 1985, Al Osimy, 2004)
  1. Masa Modern (1500 – sekarang) Early Leaders in Nursing’s Development
Masa ini ditandai dengan banyaknya ekspatriat asing (perawat asing dari Eropa, Amerika dan Australia, India, Philipina) yang masuk dan bekerja di RS di negara-negara Timur Tengah. Bahkan dokumen tentang keperawatan di Arab, sampai tahun 1950 jarang sekali, namun di tahun 1890 seorang misionaris Amerika, dokter dan perawat dari Amerika telah masuk Bahrain dan Riyadh untuk merawat Raja Saudi King Saud. (Amreding, 2003)
Dimasa ini ada seorang perawat Timur Tengah bernama Lutfiyyah Al-Khateeb, seorang perawat bidan Saudi pertama yang mendapatkan Diploma Keperawatan di Kairo dan kembali ke negaranya, dan di tahun 1960 dia membangun Institusi Keperawatan di Arab Saudi.
Meskipun keperawatan masih baru sebagai profesi di Timur tengah, sebenarnya telah dibangun di masa Nabi Muhammad SAW. Dimana mempengaruhi philosofi praktek, dan profesi keperawatan. Dan sejak tahun 1950 dengan dikenalkannya organized health care dan pembangunan RS di Arab Saudi, keperawatan menjadi lebih maju dan bukan hanya sekedar pekerjaan (job training)
  1. Keperawatan, Islam, Masa Kini dan Mendatang
Dr. H Afif Muhammad dalam seminar perawat rohani Islam di Akper Aisyiyah, Bandung 31/8/2004 mengatakan, masalah sehat dan sakit adalah alami sebagai ujian dari Allah SWT, hingga manusia tidak akan bisa terbebas dari sakit. “Sehat kerap membuat orang lupa dan lalai baik dalam melaksanakan perintah-perintah Allah maupun mensyukuri nikmat sehatnya. Kita sering menyebut kondisi yang tidak menyenangkan seperti sakit sebagai musibah yang terkesan negatif, padahal musibah berkonotasi positif,” jelasnya.
Tugas seorang perawat, menurut H. Afif, menekankan pasien agar tidak berputus asa apalagi menyatakan kepada pasiennya tidak memiliki harapan hidup lagi. “Pernyataan tidak memiliki harapan hidup untuk seorang muslim tidak dapat dibenarkan. Meski secara medis tidak lagi bisa menanganinya, tapi kalau Allah bisa saja menyembuhkannya dengan mengabaikan hukum sebab akibat,” katanya. Perawat juga memandu pasiennya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT hingga kondisinya semakin saleh yang bisa mendatangkan “manjurnya” doa.
Dr. Ahmad Khan (lulusan suma cumlaude dari Duke University) yang menemukan Ayat-ayat Al Quran dalam DNA (Deoxy Nucletida Acid) berpesan semoga penerbitan buku saya “Alquran dan Genetik”, semakin menyadarkan umat Islam, bahwa Islam adalah jalan hidup yang lengkap. Kita tidak bisa lagi memisahkan agama dari ilmu politik, pendidikan atau seni. Semoga muslim menyadari bahwa tidak ada gunanya mempertentangkan ilmu dengan agama. Demikian juga dengan ilmu-ilmu keperawatan penulis berharap akan datang suatu generasi yang mendalami prinsip-prinsip ilmu keperawatan yang digali dari agama Islam. Hal ini dapat dimulai dari niat baik para pemegang kebijakan (decission maker) yang beragama Islam baik di institusi pendidikan atau pada level pemerintah.
Di negara-negara timur tengah, konteks keperawatan sendiri banyak dipengaruhi oleh sejarah keperawatan dalam Islam, budaya dan kepercayaan di Arab, keyakinan akan kesehatan dari sudut pandang islam (Islamic health belief), dan nilai-nilai profesional yang diperoleh dari pendidikan keperawatan. Tidak seperti pandangan keperawatan di negara barat, keyakinan akan spiritual islam tercermin dalam budaya mereka.
Di Indonesia mungkin hal serupa juga terjadi, tinggal bagaimana keperawatan dan islam dapat berkembang sejalan dalam harmoni percepatan tuntutan asuhan keperawatan, kompleksitas penyakit, perkembangan tehnologi kesehatan dan informatika kesehatan. Agar tetap mengenang dan menteladani sejarah perkembangan keperawatan yang di mulai oleh Rufaida binti Sa’ad.